Home Sosok Mencari Sebuah Nama Yang Hilang

Mencari Sebuah Nama Yang Hilang

2
0
SHARE
Oleh: Jacob B. Lobiua, SH
Dr. Jimmy Oentoro dalam bukunya yang berjudul “Indonesia Satu, Indonesia
BEDA Indonesia Bisa”, memuat daftar keragaman di Indonesia yang menguraikan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah 17.508 pulau, dan merupakan negara dengan 740 suku, dimana suku yang terbanyak adalah Papua dengan 270 suku.
Pulau Halmahera sebagai pulau terbesar di Maluku Utara dihuni oleh kurang lebih 13 suku, yang terdiri dari Suku Tobelo, Galela, Loloda, Saura, Waiyoki, Modole, Togutil, Tololika, Ilham, Tobaru, Boeng, Petani-Maba, dan Sawai, serta dua suku terasing di Kepulauan Sula, yaitu Suku Kadai dan Suku Mange. Masyarakat Maluku Utara sebagai bagian daerah Kepulauan, terkenal sebagai Suku Pelaut pada zaman dulu, terbukti dengan keberadaan Kesultanan Ternate yang dapat memperluas pengaruhnya hingga Davao Filipina dan Sangir-Talaud, serta pengaruh keberadaan Kesultanan Tidore hingga ke Papua.
Khusus masyarakat yang mendiami Pulau Halmahera didominasi oleh Suku Tobelo yang dapat menjangkau daerah-daerah lain di Indonesia, yaitu Kepulauan Raja Ampat di Papua Tual/Maluku Tenggara, Timor-Timur, serta Buton. Ini dapat dibuktikan dengan adanya Teluk Tobelo dan Benteng Walio, yang diambil dari bahasa Tobelo yang artinya dia (laki-laki) pulau, dan yang telah direnovasi oleh Sultan Buton ke-38 Bpk. Drs. Laodie Kaimudi.
Khusus perjalanan Suku Tobelo untuk menjangkau daerah lain dengan mempergunakan perahu kecil dan nonaku, yaitu tanda bintang di langit dan tanda lain, contohnya perjalanan ke Timor-Timur selain mempergunakan tanda bintang juga
mempergunakan sejenis tumbuhan di pantai (ketapang) yang dalam bahasa suku disebut Loloro sehingga timbul Pomeo Loloro Kai Sai-Sai, yang artinya Loloro atau ketapang daunnya sedang bergolak itu menandakan telah mendekati Pulai Timor-Timur. Selanjutnya dari kata Loloro Kai Sai-Sai pada waktu penjajahan Portugis disempurnakan menajdi Lorosai hingga sekarang ini, sama hal nya dengan daerah Sulawesi Utara yang dikenal dengan sebutan Nyiur Melambai karena banyak pohon kelapa atau Papua yang dikenal dengan burung Cendrawasih.
Bertitik tolak dari julukan dan nama-nama di daerah lain, penulis infin mengingatkan kepada kita semua, terlebih khusus yang mendiami daerah Hibualamo, akan satu nama yang tidak lagi disebut-sebut atau diingat-ingat sebagai julukan yang
sejak dahulu lekat dengan Kabupaten Halmahera Utara dan yang diberikan oleh  leluhur kita, yaitu Bumi Gumui Guruci, yang bila diartikan adalah sebagai berikut: Bumi artinya tanah, Gumui artinya tali, serta Guruci artinya emas. Hal ini terbukti dengan keberadaan sepanjang Tanah Halmahera Utara dari Gosowong (Nusa Halmahera Minerals/NHM) daerah Malifut memanjang hingga Desa Roko di Galela hingga ke Loloda , yang dimana sesuai dengan hasil survey, mengandung emas.
Dari fenomena di atas, saya menyarankan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Utara yang sedang dipimpin oleh dua Putera Halmahera, Bpk. Frans Manery dan Bpk. Muchlis Tapi-Tapi dan yang juga sedang berusaha dengan gigih
mensejahterakan masyarakat di daerah ini bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/DPRD, untuk menyatukan pendapat yang dikukuhkan dalam Peraturan Daerah (Perda) akan nama yang telah hilang ini, yaitu Halmahera Utara yang dikenal dengan nama Bumi Gumui Guruci.***
Penulis adalah Sekretaris Lembaga Peradilan Adat Halmahera Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here