Home Berita Terbaru Intelijen Australia: Tidak Ada Penyadapan Lagi

Intelijen Australia: Tidak Ada Penyadapan Lagi

2
0
SHARE
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers tentang penyadapan pejabat tinggi Indonesia oleh Australia di Kantor Presiden Jakarta
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers tentang penyadapan pejabat tinggi Indonesia oleh Australia di Kantor Presiden Jakarta. (Foto: Antara)

Jakarta, (Buser Kriminal)
Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman mengatakan intelijen Australia telah menyakinkan Indonesia bahwa tidak akan ada lagi penyadapan terhadap para pejabat Indonesia.

“BIN sudah berkomunikasi langsung dengan intelijen Australia dan dalam komunikasi kami mereka menyatakan bahwa sekarang dan ke depan itu yang penting tidak ada lagi, itu bahasa mereka ya, mereka meyakinkan tidak ada lagi penyadapan,” katanya di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa.

Ia mengungkapkan, dari informasi yang diterimanya terdapat data yang menunjukan pelanggaran dalam penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat pada kurun waktu 2007-2009.

“Saya rasa pihak mana pun tentunya, tidak akan men-declare (mengumumkan) sudah dikerjakan, tetapi dari beberapa informasi yang kita terima, bahwa ada data-data yang memang terjadi pelanggaran itu pada kurun waktu itu,” katanya.

Menurut dia, dalam kerja sama intelijen antarnegara, penyadapan hanya boleh dilakukan terhadap para pelaku yang dinilai akan mengganggu stabilitas keamanan dan hal itu harus berkoordinasi dengan badan intelijen negara setempat. Penyadapan terhadap aktor selain itu adalah pelanggaran.

Sekarang yang berlaku adalah kita sama-sama punya agen kita di beberapa negara dan itulah perwakilan resmi dari badan intelijen negara lain yang ada di Indonesia dan mereka melakukan koordinasi dengan kita, apabila memang ada informasi yang dibutuhkan dua negara itu untuk klarifikasi itu dilakukan,” katanya.

Ia menambahkan, “Apabila mereka melakukan hal-hal di luar kewenangan yang diberikan, itu adalah pelanggaran, dan itu harus dinyatakan bahwa kita tidak bisa terima.”

Sementara itu, Presiden Yudhoyono melakukan pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Australia Najib Riphat Kesoema untuk mendapatkan laporan terkini mengenai isu itu.

Perang Siber
Perang siber antara peretas Indonesia dan peretas Australia diduga masih berlangsung sampai detik ini. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman tak terlalu khawatir.  “Hacker Indonesia jago-jago. Masak kita kalah sih,” kata dia kepada wartawan di Kantor Presiden, Rabu 20 November 2013.

Peretas anonim Australia telah mendeklarasi perang siber dengan Indonesia dan siap meluluhlantakkan website-website ternama asal Indonesia.

Mengenai ancaman ini, Marciano yakin situs-situs di Indonesia memiliki pengaman sendiri sehingga sulit untuk dibobol. Meski demikian, dia tetap mengingatkan agar pengelola situs-situs di Indonesia harus tetap waspada dan memperketat pengamanan, terutama situs pemerintah. “Secara terukur, kami mengevaluasi kemampuan situs pemerintah, terutama dari Kominfo,” kata dia.

Lebih jauh, dia juga menilai hacker yang membobol situs Indonesia harus ditangkap. “Betapa malunya Indonesia kalau situs-situsnya di-hack,” ungkapnya.

Untuk mengetahui kondisi terkini situs-situs yang dirusak dan pulih kembali, Anda bisa memantaunya di www.status.ws.

Perang siber ini dipicu skandal penyadapan yang dilakukan Australia terhadap telepon genggam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia tahun 2009. Skandal ini diungkap dua media massa, The Guardian dan The Sydney Morning Herald.

Miskomunikasi
Badan Intelijen Negara (BIN) membantah akan menggelar konferensi pers isu penyadapan oleh Australia sehingga puluhan wartawan berbagai media merasa tertipu dengan agenda yang telah tersebar ke media.

“Kami sendiri tidak tahu kalau ada konferensi pers. Mungkin ada miskomunikasi antara wartawan dengan BIN,” kata Direktur Informasi BIN Dawan yang menemui wartawan di pintu gerbang Kantor BIN, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Rabu (20/11/2013).

Ia menjelaskan hari ini BIN hanya akan bertemu Forum Pemred yang ini pun ditunda lantaran Kepala BIN tidak berada di tempat.

“Hanya ada audiensi antara Kepala BIN dengan Forum Pemred. Itu pun bukan membahas masalah penyadapan, tetapi membahas masalah wawasan kebangsaan. Acaranya juga di-reschedule,” terang Dawan.

BIN menahan seluruh wartawan yang akan menghadiri agenda tersebut di gerbang masuk. Berdasarkan undangan kepada wartawan, Kepala BIN Marciano Norman mengundang bersilaturahmi (soal penyadapan) hari ini pukul 10.00 WIB. *IGN YOGI S

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here