Home Berita Terbaru Emisi Gas Rumah Kaca Pembawa Bencana

Emisi Gas Rumah Kaca Pembawa Bencana

3
0
SHARE

logo_buserPERUBAHAN iklim, baik langsung maupun tidak langsung  menyebabkan terjadinya berbagai jenis bencana di seluruh muka bumi. Dilaporkan, bahwa penyebab perubahan iklim adalah oleh emisi gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, dan N2O.

Terungkap pada tahun 2007, emisi terbesar adalah CO2 yang mempunyai kontribusi sebesar 76,7%. Tingkat emisi CO2 tersebut bersumber dari penggunaan fossil fuels (minyak bumi dan batu bara) dengan komposisi sebesar 56,6%, deforestasi memberi sumbangan sebesar 17,3%, dan sumber lainnya berkontribusi sebesar 2,8%. Dilaporkan juga bahwa CH4 memiliki kontribusi 14,3%, N2O sebesar 7,9% dan F gases 1,1% dari total emisi.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ekonominya berbasis pertanian dan sumber daya alam, bagaimana pun akan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam emisi gas CO2.

Kegiatan deforestasi di Indonesia selama periode tahun 1990-2005 menempati urutan ke-2 dunia dengan total kontribusi rata-rata 25,9% per-tahun. Angka itu sedikit di bawah Brazil yang menempati urutan pertama dengan kontribusi rata-rata 32,4% dari total emisi CO2 yang bersumber dari deforestasi dan degradasi hutan.

Kawasan hutan di Indonesia yang masih luas berada di pulau Kalimantan, Papua dan Sumatera. Dari berbagai jenis hutan, hutan rawa gambut (peat swamp forest) dipandang mempunyai peran yang sangat strategis dalam mencegah terjadinya kenaikan emisi CO2, karena kawasan hutan rawa gambut berfungsi sebagai penyimpan karbon.

Bila hutan rawa gambut terdegradasi atau dikonversi, maka akan menyebabkan peningkatan emisi CO2 yang sangat besar. Sebagai contoh, akibat kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997, jumlah emisi CO2 diperkirakan mencapai 0.81 s.d 2.57 giga ton yang juga berarti memberikan kontribusi sebesar 3,4 s.d 11,0 % dari total emisi CO2 seluruh dunia pada tahun tersebut.

Pemicu terjadinya deforestasi dan degradasi hutan disebabkan kebijakan untuk kepentingan pembangunan bangsa-bangsa di dunia, namun tidak seluruhnya kebijakan yang ditempuh berdampak positif bagi lingkungan hidup setiap negara.

Di Indonesia, kebijakan yang dominan menyebabkan deforestasi adalah perkebunan besar, pertambangan, transmigrasi, pembangunan fasilitas umum, sepert jalan dan waduk, serta kebakaran. Sedangkan degradasi disebabkan oleh kegiatan-kegiatan masyarakat yang menurut hukum positif di Indonesia dikategorikan ilegal.

Selain itu, eksploitasi oleh pengelola hutan yang belum melaksanakan pengelolaan hutan secara lestari (PHL), juga merupakan penyebab penting degradasi hutan. Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar (PLG) merupakan salah satu contoh nyata kebijakan yang secara simultan menyebabkan deforestasi dan degradasi, karena perencanaannya tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan, aspek Strategi Daerah REDD+ Kalimantan Tengah.

Memperhatikan lajunya deforestasi dan meningkatnya degradasi hutan di seluruh dunia, sejak tahun 1990-an telah diformulasi kesepakatan internasional untuk mengurangi laju emisi gas rumah kaca (GRK) yang dikenal dengan Kyoto Protocol, dan kini dimodifikasi kedalam suatu istilah yang disebut Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD+). Pengertian plus (+) adalah konservasi, penguatan stok karbon dan pengelolaan hutan lestari.

Untuk merealisasikan program REDD+ di negara berkembang, tentu melibatkan tanggung jawab negara-negara maju, apalagi negara maju yang mengandalkan mesin industri sebagai tulang punggung perekonomiannya, namun kurang tersedia hutan yang akan menyerap emisi CO2 yang dihasilkan.

Mengawali kesepakatan internasional tentang REDD+ tersebut, Kerajaan Norwegia berkomitmen kuat dan bekerja sama dengan Indonesia untuk melakukan aksi nyata sebagaimana tercantum pada Letter of Intent tanggal 26 Mei 2010. *REDAKSI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here