SHARE

PEMRED BARESKRIMGENCARNYA media massa mempublikasikan sepak terjang kepolisian dalam aksi penggerebekan para bandar narkoba dan jaringannya secara serentak di Indonesia ditanggapi dan direspon positif masyarakat.

Keresahan, ketakutan dan kekawatiran masyarakat pada umumnya serta pemerintah khususnya mulai terobati. Kendati, sindikat narkoba di Indonesia mulai mempersenjatai diri untuk melakukan perlawanan kepada siapa saja yang mengganggu bisnis barang haramnya, tak terkecuali polisi sekalipun.

Ini membuktikan bahwa seberapa jelas dan tegasnya Undang Undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan psikotropika yang diberlakukan untuk menjerat hukuman berat bagi bandar narkoba sebagaimana tertulis dalam Pasal 114 Ayat 1 dan 2 bukan lagi menjadi sesuatu yang ditakutkan mafia narkoba. Berarti, butuh korelasi dan strategi baru untuk menghadapi geng narkoba yang kian brutal, agar penegak hukum dan masyarakat tidak lagi menjadi korban tindak lanjut dari motif balas dendam sindikat narkoba yang setiap saat mengintai.

Keseriusan dan keterbukaan institusi penegak hukum dalam upaya membangun sinergitas kekuatan dan koordinasi kerja antar badan hukum, rasanya menjadi penting untuk disepakati secara administratif agar apa yang menjadi program kerja pemerintah dan target operasi institusi penegakan hukum bisa berjalan lancar tanpa hambatan prosedural baku, mengingat peredaran narkoba adalah kejahatan yang melanggar hukum dan mengancam sendi-sendi keamanan Negara, serta mengancam ketahanan kualitas SDM Generasi Indonesia masa depan.

Ironis sekaligus miris ketika pikiran publik disuguhkan barang bukti ratusan kilogram narkoba bernilai miliaran rupiah yang diamankan reserse narkoba dari kejahatan sindikat narkoba. Terlebih ada anggota polisi yang tewas menjadi korban keganasan prilaku geng narkoba. Artinya , polarisasi kasus ini tidak bisa lagi dipandang remeh sebagai perbuatan criminal semata, tetapi sudah menjadi bentuk kejahatan luar biasa dan harus ditangani luar biasa pula.

Negara tidak boleh kalah, masih banyak pelaku lain yang kami kejar, identitasnya juga sudah kami ketahui semua, dan kami akan kejar sampai lubang semut manapun,” tutur Dirreskrimum Polda Metro Jaya. Kita dan Publik sependat dengan statemen Kombes Pol. Krishna Murti, dan masyarakat bangga atas apa yang dilakukan polisi selama ini. Namun public juga berharap agar Kepolisian tetap mengedepankan aspek proporsionalitas dan profesionalitas dalam menjalankan tugas operasi dan tetap waspada serta mengutamakan keamanan masyarakat dalam setiap tindakannya agar tidak salah sasaran.

UU Narkotika dengan ancaman hukuman berat dan mati bagi para pelaku sindikat narkoba tetap dikedepankan, tak terkecuali pula startegi perang polisi melawan narkoba secara teknis dilapangan juga perlu diperhitungkan karena geng narkoba pun telah terbekali Senpi yang setiap saat juga bisa mengancam keselamatan jiwa aparat polisi di lapangan dalam upaya melakukan penggerebekan narkoba.

Indonesia kini sudah masuk daftar nomor tiga di dunia dalam perdagangan narkoba, menyamai Meksiko. Pendistribusiannya menyebar di setiap lini wilayah, konsumennya kian tinggi, jutaan anak bangsa ini menjadi robot sindikat narkoba. Indonesia menjadi pasar menarik kartel-kartel narkoba jaringan internasional. 250 juta rakyat Indonesia akan menjadi target baby boom sindikat narkoba. Karenanya, Kepolisian RI-Kejagung RI, dan Kalapas dan pihak Imigrasi perlu menyatukan langkah menegakan supremasi hukum tanpa pandang bulu. Itu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here