Home Berita Terbaru Catatan Kecil tentang Cina Oleh : Marzuki Usman,MA

Catatan Kecil tentang Cina Oleh : Marzuki Usman,MA

8
0
SHARE

ChinaPada  petengahan November 2015 penulis terbang dari Bandara Narita (Tokyo) ke Bandara Dulles (Washington DC, AS) di kelas ekonomi. Padahal sebelum pensiun dulu, sebagai Menteri Pariwisata RI pada masa Presiden Habibie dan Abdul Rahman Wahid, penulis senantiasa terbang dan duduk di kelas bisnis.

Duduk di kelas ekonomi selama delapan jam dengan kursi tidak bisa direbahkan hingga 30 derajat, tentulah penat bin tidak nyaman. Sudah berdzikir membaca kalimat tauhid berulang kali, akhirnya mata tertarik menonton televisi di pesawat yang menyuguhkan tayangan berjudul “A Little Bit of China” atau “Catatan Kecil tentang Cina.

Pada layar tv mungil, penulis menyaksikan kehidupan rakyat Cina di provinsi Xinjiang, sebuah provinsi paling barat yang berbatasan dengan Kazakstan, Uzbekistan dan sebagainya. Warga Xinjiang mayoritas pemeluk Islam. Dalam tayangan terlihat warga Xinjiang yang berprofesi sebagai petani menyambi menggembalakan sapi, biri-biri atau kambing. Juga ada nelayan yang menangkap ikan serta restoran aneka rupa masakan sedap.

Petani Xinjiang terlihat menggembala kambingnya dengan mengendarai sepeda motor, para nelayannya mencari ikan dengan perahu motor. Hewan ternak itu disembelih untuk konsumsi sendiri maupun dijual ke provinsi-provinsi lain.

Pengelolaan budi daya produk pertanian, peternakan dan perikanan terlihat serba rapi dan moderen. Dalam kehidupan yang islami, warga Xin jiang tetap menikmati seni suara, seni lukis, dan aritekturnya yang kaya ornamen. Intinya, warga Xin jiang terlihat hidup berkecukupan, bahagia dan aman dan damai.

Ketika Deng Xioping mulai memimpin Cina usai Kongres Partai Komunis Cina 1978, Xinjiang adalah provinsi terbelakang, warganya masih tinggal di tenda-tenda di padang rumput. Mereke menggembalakan kambing atau domba dengan ditemani kawanan anjing

Terima kasih kepada Deng Xiaoping yang memperkenalkan dan menerapkan kebijakannya yang tetap menghargai sepuluh kebajikan Ketua Mao Tsedong dan melupakan dosa-dosanya. Hasilnya mengagumkan, rakyat Cina bukan menjadi bangsa pendendam, tetapi menjadi rakyat yang selalu bersyukur.

Kemudian Deng Xiaoping berkata lagi: “jika Ketua Mao berujar bahwa setiap orang harus bekerja keras sesuai kemampuannya, dan hanya memperoleh sesuatu untuk menopang hidupnya saja. Semua milik pribadi ditiadakan diganti menjadi semua serba milik negara. Walhasil, ekonomi Cina hancur lebur.”

Maka berkatalah Deng Xioping:” Setiap orang harus bekerja keras, dan setiap orang memperoleh sesuai dengan jerih payahnya.” Hasil akhirnya, rakyat Cina pada abad 21 kini menjadi bangsa yang kaya dan berbahagia.

Terinspirasi tayangan tv di pesawat Boeing 777-700 itu, penulis ingat pepatah Melayu yang selalu didengungkan emak saya di Dusun Mersam, Jambi, ketika penulis masih duduk di bangku SD pada 1950-an: “Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. “Hai Marzuki, bumi kalau dicakar alias digaruk-garuk untuk bercocok tanam, adalah tidak berdarah-darah. Maka wahai anakku Marzuki, engkau bekerja dengan keras dan cerdiklah. Bukan bekerja keras , tapi bodoh!”

Amanat emak saya inilah yang penulis amalkan untuk membangun pasar modal Indonesia, memodernisir sitem perpajakan dan memajukan sektor keuangan Indonesia dengan bimbingan para pakar ekonomi Indonesia pada zamannya seperti Prof Dr Ali Wardhana, Prof Dr Johannes Baptis Sumarlin dan aparat senior lainnya.

Ya Allah, hamba-Mu berterima kasih atas segala nikmat dan karunia-Mu, Aamin.

Durham, North Carolina, USA, mId November 2015

Penulis : Mantan Kepala Bapepam

Sumber: inilah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here