Home Berita Terbaru Kasus di SP3, Istri Purnawirawan Polisi Ajukan Pra Peradilan

Kasus di SP3, Istri Purnawirawan Polisi Ajukan Pra Peradilan

3
0
SHARE
Melva Tambunan didampingi kuasa hukumnya, Dr. Djonggi M.Simorangkir, SH.MH(Foto: Buser Kriminal)
Melva Tambunan   didampingi kuasa hukumnya, Dr. Djonggi M.Simorangkir, SH.MH(Foto: Buser Kriminal)
Melva Tambunan didampingi kuasa hukumnya, Dr. Djonggi M.Simorangkir, SH.MH(Foto: Buser Kriminal)

Jakarta (Buser Kriminal)-Istri purnawirawan  perwira menengah Polri, Melva Tambunan (42), mengajukan pra peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, lantaran laporannya terkait dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan seorang wanita berinisial SS  di SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan)  oleh Kombes Pol Krishna Murti, saat menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya.

Menurut Melva, pada Januari 2015 dirinya melapor ke Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan perempuan berinisial SS.  “Perempuan itu (SS) mengaku sebagai istri suami saya (almarhum Kombes Pol Purn Agus Maulana. SS Diduga telah memalsukan surat akte nikah dengan suami saya,” ujarnya di sela sidang perdana pra peradilan di PN Jakarta Selatan, Senin (21/11/2016).

Sidang pra peradilan  sendiri ditunda hingga Senin depan, lantaran  pihak termohon (Polda Metro Jaya) tidak hadir pada persidangan.

Melva yang didampingi kuasa hukumnya, Dr. Djonggi M.Simorangkir, SH.MH, mengaku kecewa lantaran laporannya tidak ditindaklanjuti, justru di SP3 oleh Kombes Pol Krishna Murti, yang saat itu menjabat Dirkrimum Polda Metro Jaya, dengan alasan tidak cukup bukti,

Hal itulah, sambungnya, yang membuat Melva mengajukan gugatan pra peradilan di PN Jakarta Selatan. Pasalnya, SP3 yang dikeluarkan itu tidak berdasar fakta alias dibuat-buat. “Lewat pra peradilan ini kasus tersebut harus dilanjutkan,” tukasnya.

Melva menuturkan, selain itu dirinya juga telah melaporkan  kasus dugaan pencurian dan penggelapan harta milik suaminya, dengan terlapor SS.  Namun, laporan itu juga terhenti dengan dikeluarkannya SP3 sekitar Maret 2016,  dengan alasan tidak cukup alat bukti.

“Hingga kini, SS masih menempati  rumah milik almarhum suami saya di Komplek Polri, Pengadegan, Jakarta Selatan. Padahal itu tidak sah, ” tandasnya.

Kuasa hukum Melva , Dr. Djonggi M.Simorangkir, SH.MH, menegaskan, SP3 yang dikeluarkan terkesan mengada-ada. “Oleh  sebab itu kasus yang menimpa klien saya (Melva) harus tetap dilanjutkan,” ujarnya kepada wartawan seraya menambahkan pihaknya menggugat Dirkrimum Polda metro Jaya, yang saat itu dijabat  Krishna Murti

Dia pun mempertanyakan alasan dikeluarkannya SP3. Pasalnya, data-data yang diserahkan  sudah lengkap. Djonggi pun meminta agar gelar kasus di persidangan agar hakim bisa menilai. (Wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here