Beranda Berita Terbaru Marhaban Ya Ramadan, Momen Bersatu Menebar Damai

Marhaban Ya Ramadan, Momen Bersatu Menebar Damai

BERBAGI

JAKARTA, buserkriminal.com – Marhaban ya Ramadan. Bulan penuh berkah dan rahmat tiba. Rabu (16/5/2018) malam, masyarakat antusias menyambangi masjid untuk salat tarawih pertama.

Tak ada rasa takut akan teror.

Hanya ada satu keinginan mereka, mendulang pahala sebanyak-banyaknya di bulan suci ini. Meski rangkaian teror terjadi sejak Selasa 8 Mei 2018.

Terakhir, teror menyerang Mapolda Riau Selasa 15 Mei pagi. Lima orang merangsek masuk ke Mapolda Riau. Dua orang menggunakan sepeda motor, lainnya menabrakkan mobil ke petugas.

Seorang polisi yang dikenal sebagai guru ngaji di Polda Riau meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Dia ditusuk menggunakan samurai yang dihujamkan salah satu pelaku.

Mita, warga Pesing, mengaku tidak takut dengan teror. Dia percaya, Tuhan akan melindungi umatnya, terlebih pada bulan Ramadan.

“Enggak takut insyaallah. Pasrah saja dah, bismillah. Memohon perlindungan oleh Allah,”  Rabu.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ela, warga Gagak, Bandung, Jawa Barat. Dia mengatakan, teror hanyalah perbuatan untuk memecah belah bangsa. Dia tidak ingin terlalu memikirkan ancaman teror pada Ramadan ini.

“Teror sengaja dilakukan untuk membuat negara kita ricuh atau tidak aman, sehingga orang merasa takut dan tidak nyaman. Kalau ditanya takut, ya agak takut. Tapi kalau memang sudah kehendak Allah kita meninggal, tidak bisa menghindar juga. Yang penting ibadah saja,” ujar Ela.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faisal Zaini, mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum menebar perdamaian agar rentetan teror tidak terjadi lagi.

Dia meminta warga untuk bisa saling menghormati. Terlebih, lanjut dia, Ramadan merupakan bulan penuh hikmah, berkah, dan ampunan. Bulan ini juga saat diturunkannya Alquran ke Bumi.

“Saya yakin bulan ini menjadi bulan perdamaian,” kata Faisal Rabu (16/5/2018).

Dia berharap semua pihak dapat menahan diri untuk tidak berbuat jahat selama Ramadan. Justru inilah saatnya untuk memperkokoh persaudaraan antarmuslim dan antarumat beragama.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi, mengingatkan kembali tentang tujuan berpuasa. Dia mengatakan, salah satu tujuan berpuasa adalah membentuk seorang muslim yang memiliki kesalehan pribadi dan sosial.

“Jadi sesungguhnya tujuan berpuasa itu adalah membentuk seorang muslim yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial, yang dapat menyeimbangkan hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horisontal dengan manusia (hablum minannas),” tulis Zainut dalam pesan singkatnya.

Jika hal itu tercapai, puasa dapat menjauhkan diri dari perbuatan zalim, aniaya, teror, dan bentuk kerusakan lainnya. Implementasi nilai-nilai Islam tentang perdamaian, kasih sayang dan keadilan akan lebih mudah ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah puasa. Sehingga diharapkan nilai-nilai tersebut akan terus menjadi bekas (atsar) dalam kehidupan sehari-hari,” sambung dia.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan hal yang sama. “Marhaban yaa Ramadhan 1439 H. Puasa untuk mencapai derajat takwa dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar,” tulis Jokowi dalam akun Instagramnya.

Dia juga telah meminta Polri, TNI, dan Badan Intelijen Negara mengendalikan keamanan selama Ramadan. Kondusifnya situasi keamaan, menurut Jokowi, akan memberi ketenangan kepada umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa.

“Sehingga kita harap umat Islam bisa menunaikan ibadah puasanya dengan rasa aman dan penuh kedamaian,” ucap Jokowi di Istana.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan, pemerintah bakal menjamin keamanan warga baik selama Ramadan maupun setelahnya. Menciptakan perdamaian, kata dia, sudah menjadi kewajiban pemerintah.

“Jadi enggak usah ditanyakan lagi. Itu memang harus kita lakukan,” kata Wiranto di kantornya.

Polri pun bersiaga penuh sejak teror Mako Brimob hingga selama Ramadan ini. Siaga I tetap diberlakukan di seluruh kepolisian daerah.

“Kita tetap siaga I. Menugaskan tetap siaga I untuk menjamin supaya saudara-saudara kita umat muslim dapat melaksanakan ibadah dengan tenang. Tentunya bekerja sama dengan masyarakat. Kalau mau tarawih ya rumahnya ditutup, kalau sahur jangan pintunya dibuka. Artinya jangan beri kesempatan orang berbuat pidana,” ujar Kepala Divisi Humas Irjen Setyo Wasisto.

“Saya harap semua pihak menahan diri tidak berbuat kemungkaran. Hormatilah orang yang sedang berpuasa,” ucap Faisal.o

 

Sumber, liputan6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.