Home Khatulistiwa Sidang UU Pers di Pengadilan Surabaya, Wartawan Coba Dibunuh Orang tak Dikenal

Sidang UU Pers di Pengadilan Surabaya, Wartawan Coba Dibunuh Orang tak Dikenal

0
SHARE

IMG-20160926-WA0032_20160927120543815Surabaya (Buser Kriminal) – Persidangan dalam perkara terkait UUD Pers di Pengadilan Negeri Surabaya semakin memanas dengan terdakwa Irine Madalena yang pada saat itu menghalangi wartawan dalam melakukan peliputan  tragedi tabrak lari hingga korban tewas  memasuki agenda keterangan saksi korban, Senin (26/9).

Terdakwa diancam pidana pasal 18 ayat 1 UU RI Nomor 40 tahun 1999 tentang pers dengan hukuman selama 2 tahun penjara atau denda Rp 500 juta. Namun, Hakim Efran Basuning SH MH dari Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tidak melakukan penahanan terhadap terdakwa.

Dalam persidangan, Slamet Maulana saksi korban menceritakan, bahwa aksi perampasan kamera itu terjadi pada Oktober 2012 silam, saat dirinya dalam perjalanan pulang usai melakukan tugas jurnalistiknya di beberapa tempat hiburan malam yang ada di Kota Surabaya.

Saat melintas di jalan HR Muhammad, saksi dicegat salah seorang satpam dan diberitahukan ada kejadian tabrak lari, pelaku tabrak lari adalah mobil Toyota Wish yang melaju kencang meuju ke arah diskotik M-One Mall PTC Pakuwon City.

“Usai mendengar penjelasan itu, saya langsung meluncur ke lokasi yang diberitahukan oleh Satpam tadi, ketika dirinya sampai di lokasi diskotik M-One, dia lantas mencoba menemui pelaku tabrak lari dan mewawancarai serta memotretnya. Saya sempat memperkenalkan diri sebagai wartawan yang tengah meliput kejadian laka lantas yang dilakukan terdakwa, merasa terganggu terdakwa lantas merampas kamera yang saya pegang,” aku saksi Slamet.

Tak terima dengan perlakuan tersebut, saksi lantas melaporkan kejadian itu ke petugas laka lantas yang menjadi penengah di tempat kejadian perkara. Anehnya, setelah perlakuan kasar itu dilaporkan ke polisi, bukannya Irine memberikan kamera justru malah memaki dan membentak petugas polisi yang saat itu akan mengamankan Irine untuk dibawa ke kantor polisi. Seketika itu juga kamera wartawan itu dikembalikan orang lain kepada Slamet yang pada posisi Irine 20 meter jaraknya.

“Kamera yang pernah dirampas dikembalikan, tapi bukan dia yang menyerahkan melainkan kamera itu diserahkan oleh orang lain,” papar saksi Slamet.

Mendapati kameranya diserahkan, saksi sontak memeriksa hasil liputannya tadi malam, ternyata memori kameranya hilang. Saksipun mempertanyakan hilangnya memori kamera itu pada terdakwa tapi oleh terdakwa dijawab tidak tahu. Namun untungnya beberapa foto yang berkaitan dengan peristiwa laka lantas tersebut ternyata masih bisa diselamatkan.

Setelah mendengar keterangan saksi, Irene Madalena terdakwa perampasan kamera wartawan membantah keterangan saksi korban. Bahkan, wanita terdakwa yang tinggal di Jalan Siodoyoso Surabaya tersebut menantang untuk dikonfrontir dengan saksi lainnya dari anggota Polantas Polrestabes Surabaya untuk mengkuatkan bantahan di sidang selanjutnya.

“Keterangan saksi bohong Pak, saya berani dikonfrontir,” kata terdakwa Irene kepada majelis hakim yang dipimpin Efran Basuning.

Seperti diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ferry Rahman dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya akhirnya mendudukkan Irine Madalena (45) di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya.

Paska usai sidang, Slamet Maulana bergegas meninggalkan ruang sidang berkumpul sesama rekan wartawan di warkop samping pengadilan tragedi terjadi. “Tiba tiba datang seorang dengan nada mengancam kalau tidak damai saya bunuh kamu sambil membawa garpu dengan disaksikan rekan wartawan lainnya. Slamet yang terancam nyawanya bergegas pergi untuk menyelamatkan dirinya. Entah orang suruhan siapa orang tak dikenal dan ditanya bahwa perkara dengan Irene Madalena harus bisa damai kalau tidak bisa damai akan dibunuh,” ucap slamet dengan nada takut karena orang tak dikenal membawa 4 Garpu yang mau menusuk perutnya. o AD

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here