oleh

Penjual Senpi Ilegal Konversi Airsoft Gun, Dibekuk Polda Jabar

BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskimsus) Polda Jawa Barat berhasil menangkap seorang pria berinisial DA (25), warga Kabupaten Tasikmalaya, yang menjual senjata api (senpi) dan amunisi ilegal konversi dari Airsoft Gun.

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Erdi A Chaniago S.I.K., M.Si. mengungkapkan, bahwa kasus ini berawal pada hari Rabu (14/10/2020). Petugas dari Ditreskrimum Polda Jabar melakukan patroli cyber dan penyelidikan terhadap akun toko bernama “Dados”, di sebuah toko online.

“Usai dilakukan penyelidikan, pemilik akun Dados adalah Dias Anjasmara, warga Kampung Babakan Sindangeuleut, Kabupaten Tasikmalaya,” ungkap Kombes Erdi.

Pria berinisial DA, lanjut Kombes Erdi, awalnya memesan Airsoft Gun yang bisa dikonversi menjadi Senpi (Senjata Api). Lalu tersangka menjual barang tersebut melalui aplikasi jual beli daring.

Lebih lanjut Kombes Erdi menjelaskan, bahwa Tersangka sudah melakukan ini selama Dua tahun. Selain menjual, DA juga menerima jasa servis senjata api dan juga menerima jasa konversi airsoft gun menjadi senjata api.

“Dan dipastikan, bahwa kegiatan itu tidak memiliki izin dan dinyatakan ilegal,” jelas Kabid Humas Polda Jabar.

Tersangka menjual Senjata Api tersebut, kata Kombes Erdi, dengan kisaran harga Rp 5 Juta hingga Rp 8 Juta. Airsoft gun yang telah dikonversi menjadi senjata api itu, bisa meletuskan peluru dengan kaliber 22 dan 38 Milimeter.

“Dia mengganti sebagian partisi. Seperti pelatuk, hammer, pin, dan silinder. Sehingga dapat menembakkan peluru,” beber Kombes Erdi.

Kabid Humas Polda Jabar menerangkan, Tersangka belajar mengkonversi senjata secara otodidak. Selain itu, Polisi juga tengah melakukan pengembangan guna mencari pembeli, serta sumber berbagai barang ilegal yang dimiliki tersangka.

“Ini sangat beresiko, apabila sudah ada di tangan orang tidak bertanggung jawab, karena menyangkut nyawa orang,” tutur Kombes Erdi.

Tersangka kini dalam proses hukum di Mapolda Jabar, guna mempertanggungjawabkan atas perbuatannya, tersangka terjerat Pasal 9 Undang Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik, dan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

“Dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara hingga maksimal hukuman penjara seumur hidup,” tegas Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi.@Lana

Komentar

News Feed